gue banget

Posted Juli 30, 2008 by adiakhmadi
Categories: dari buku

Tags:

Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

Sumber majalah As-Sunnah Edisi 07/Th.III/1419-1998

Sabda Rasullah Shallahualihi wa sallam:

“Sesungguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan

mufattah (penuh cobaan),

Tawwab (senang bertaubat), dan

nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat.”[1]

Ini hadits sifat-sifat orang mukmin, lengket, menyatu tiada pernah lepas, hingga seolah “second skin”. Sifat seorang mukmin dengan keimanan yang benar, dengan tauhid yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitmen).

Mufattan artinya orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Jadi waktu demi waktu mereka diuji Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa[2]. Cobaan memperbaiki keimanan, keyakinan dan semangat mengingat Allah Subhanallahu wa taala. Kelemahan diri menyadarkan betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb semesta alam.

“Perumpamaan seorang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang meluruskannya kembali. demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus.”[3]

Bertaubat, kemudian lupa. kemudian ingat, kemudian bertaubat (Tawwab Nasiyy)[4]. Bertaubat merupakan implementasi konsekuensi salah satu sifat Allah Subhanallahu wa taala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya: Al-Ghafar (Dzat yang Maha Pengampun).

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar”[5]

Seorang mukmin bila diingatkan, segera ingat. Bergegas ketika diingatkan tentang ketaatan dan kebenaran. Bertaubat ketika diingatkan tentang kemaksiatan dan kekeliruan. Ia tidak sombong, besar kepala, congkak, tinggi hati. Ia rendah hati, lemah lembut, ramah dalam pergaulan. Senantiasa merasa dalam pengawasan Allah Azza wa Jalla membuatnya jujur, luhur, berperasaan lembut, berahlak mulia, sebagaimana Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka”[6]


[1] (Silsilah hadits shahih no. 2276).

[2] (Faidh al-Qadir 5/491).

[3] (Bukhari: Kitab al-Mardha, bab I, hadits no. 5643; Muslim no. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027).

[4] (Faidh al-Qadir 5/491).

[5] (Q.S.Thaha: 82)

[6] (Q.S. Ali-Imran: 159)

jagalah

Posted Juli 30, 2008 by adiakhmadi
Categories: dari buku

Tags:

Menjaga kebaikan[1]

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”[2].

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”[3].

“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras”[4].

“Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”[5].

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash berkata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Ya Abdullah, janganlah engkau seperti fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi”[6].

Seseorang jika terbiasa mengerjakan kebaikan, maka sepatutnya dijaga. Misal terbiasa shalat sunnah Rawatib, shalat malam, shalat Dhuha atau mengamalkan sunnah lainnya, maka hendaklah dijaga. Hal ini dikarenakan amalan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkesinambungan. Apalagi manusia akan timbul kebenciannya pada suatu amal, jika sudah terbiasa kemudian meninggalkannya. Sungguh mundur setelah maju lebih jelek daripada tidak maju. Seandainya belum mulai melakukan kebaikan, tentulah hal itu lebih ringan daripada telah melakukannya kemudian ditinggalkan. Hal ini sesuatu yang telah terbukti”[7].

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”[8].

Maknanya, manusia hendaknya berketetapan pada kebaikan yang menjadi kebiasaannya. Jangan seperti seorang wanita pemintal yang memintal kain wol. Ketika selesai kemudian dirobek-robek dan menguraikannya. Kebaikan yang telah dilakukan hendaklah dijaga dan ditekuni.

“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras”[9].

Artinya: Ada kaum yang diturunkan kitab dari sisi-Nya. Mereka beramal dengan amal shalih. Hati mereka mengeras lalu amal shalih ditinggalkan seiring waktu yang berlalu. Maka janganlah seperti mereka.


Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan , dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi”.

Kata fulan merupakan “kinayah” tentang seorang lelaki sedangkan wanita dengan fulanah. Hal ini bisa dipahami:

1. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menyebutkan namanya adalah Abdullah bin Umar radiallahuanhu untuk menutupi aib.

2. Rasulullah shallalahu alihi wa sallam menyebutkan nama tetapi disamarkan Abdullah bin Amru bin Al-Ash radiallahuanhu.

Inti pokok bahasan dari dua kemungkinan di atas adalah amal. Perkaranya seorang lelaki mengerjakan shalat malam namun tidak dijaga.

Shalat malam hukum pokoknya adalah sunnah, kalaulah manusia tidak melakukannya maka tidaklah ia dicela, dan tidak dikatakan padanya: “Mengapa kamu tidak mengerjakan shalat malam?”. Karena shalat malam adalah sunnah, tetapi keadaan dimana ia mengerjakan shalat malam lalu di lain hari tidak mengerjakan. Keadaan ini menyebabkan ia dicela. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu seperti fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi”.

Hal yang lain, dan ini merupakan yang terpenting hendaknya sesorang memulai untuk menuntut ilmu syar’i, tatkala Allah membukakan baginya kenikmatan ini kemudian ia tinggalkan amalnya (menuntut ilmu syar’i), maka sesungguhnya hal ini adalah kufur terhadap nikmat yang Allah berikan padanya. Maka jika engkau memulai menuntut ilmu teruslah menuntut ilmu karena menuntut ilmu hukumnya Fardhu kifayah, setiap orang yang menuntut ilmu sesungguhnya Allah membalas amalnya itu dengan pahala Fardhu (wajib). Dan pahala Fardhu adalah lebih utama dari pahala nafilah (sunnah), sebagaimana tersebut dalam hadits shahih bahwasanya Allah berfirman:

“Tiadalah hambaku mendekatkan kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku sukai dari apa yang aku wajibkan kepadanya”[10]. Menuntut ilmu adalah Fardhu Kifayah jika seseorang menegakkanya maka berarti ia mewakili umat dalam melaksanakannya. Dan terkadang menuntut ilmu itu hukumnya fardhu ain jika seorang manusia membutuhkan ilmu untuk dirinya, sebagaimana ia berkeinginan untuk shalat ia harus belajar hal-hal yang berhubungan dengan hukum shalat. Dan barangsiapa yang mempunyai harta ia harus mempelajari hukum-hukum zakat. Penjual dan pembeli harus mempelajari hukum-hukum jual-beli, dan barangsiapa yang ingin menunaikan ibadah haji maka harus mempelajari hukum-hukum haji, ini hukumnya Fardhu Ain. Adapun ilmu-ilmu yang lain, mempelajarinya adalah Fardhu Kifayah, jika seseorang mulai menuntut ilmu maka janganlah ia kembali (mundur), tetapi ia hendaknya terus menuntut ilmu jika ada suatu hal penting menghalanginya dari menuntut ilmu, hal ini lain lagi keadaannya.

Orang munafik adalah mereka yang jika memulai suatu amal, mereka tinggalkan amal itu. Dalam perang Uhud sekitar seribu orang keluar untuk berperang bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sepertiganya adalah orang-orang munafik. Mereka tidak meneruskan perjalanan dan berkata:“Sekiranya kami mengetahui terjadi peperangan tentulah kami mengikuti kamu”, Allah berfirman:”Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan”[11]

Seorang muslim jika Allah memberikan karunia kepadanya dengan sesuatu yang mana ia beribadah kepada Allah denganya dengan ibadah yang khusus seperti shalat, atau ibadah-ibadah mutaadiyah (yang bermanfaat kepada selain dirinya) seperti menuntut ilmu hendaknya ia tidak mundur dan tidak terlambat, hendaknya ia terus menerus untuk hal itu, karena sesungguhnya yang demikian itu adalah petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan dari sebagian petunjuk Nabi Shallallahu alihi wa sallam adalah sabdanya:”Janganlah kamu seperti fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi”.Dan Allah-lah Maha Pemberi Petunjuk.


[1]Dikutip dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 09/th. II/2004 M/1424H page: 14-15 Menjaga kebaikan Syarh (penjelasan) Kitab Riyadhus Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utasimin

[2]Q.S. Ar-Ra’du: 11

[3]Q.S. An Nahl: 92

[4]Q.S. Al Hadid: 16

[5]Q.S Al Hadid: 27

[6]Muttafakun alaihi

[7]Imam Nawawi (semoga Allah merahmati beliau): “Bab menjaga kebaikan”.

[8]Q.S. An Nahl: 92

[9]Q.S. Al Hadid: 16

[10]Hadits riwayat Bukhari: 6502

[11]Ali Imran: 167

bagi yang kepengen

Posted Juli 27, 2008 by adiakhmadi
Categories: buah perjalanan

Tags:

CARA PRAKTIS MENGHAFAL AL QURAN
( باللغة الإندونيسية )
Disusun Oleh:
Dr. Abdul Muhsin Al Qasim (Imam dan Khatib masjid Nabawi)

Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekkannya.

Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:
1- Bacalah ayat pertama 20 kali:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}
2- Bacalah ayat kedua 20 kali:
وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}
3- Bacalah ayat ketiga 20 kali:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}
4- Bacalah ayat keempat 20 kali:
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}
5- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
6- Bacalah ayat kelima 20 kali:
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}
7- Bacalah ayat keenam 20 kali:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْوَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}
8- Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}
9- Bacalah ayat kedelapan 20 kali:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}
10- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

- BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?
Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

- BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.
Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah menghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.
Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

- BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DI ATAS?
Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran setiap dua minggu sekali.
Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

- APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.
Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagaimana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: “kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam (al Qur an)”. (HR. Ahmad).
Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:
- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.
Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: ” Fami bisyauqin ( فمي بشوق )”, dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:
- huruf “fa” symbol dari surat “al fatihah”, sebagai awal wirid beliau hari pertama,
- huruf “mim” symbol dari surat “al maidah”, sebagai awal wirid beliau hari kedua,
- huruf “ya” symbol dari surat “yunus”, sebagai wirid beliau hari ketiga,
- huruf “ba” symbol dari surat “bani israil (nama lain dari surat al isra)”, sebagai wirid beliau hari keempat,
- huruf “syin” symbol dari surat”asy syu’ara”, sebagai awal wirid beliau hari kelima,
- huruf “wau” symbol dari surat “wa shafaat”, sebagai awal wirid beliau hari keenam,
- huruf “qaaf” symbol dari surat “qaaf”, sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat “an-nas”.
Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

- BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

- KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:
1- Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
2- Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
3- Hafalkanlah mulai dari surat an-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
5- Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa “tajmi’” (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orang yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba- Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal ‘alamin.

~dari millis As Sunnah~

tak salin abis kepengen tapi ndak ada yang mbimbing jadi hiks 3x

sin

Posted Juli 18, 2008 by adiakhmadi
Categories: dari buku

Tags:

“Sedikitnya taufik (pertolongan dari Allah), rusaknya pemikiran, tersamarnya kebenaran, rusaknya isi hati, tidak membekasnya bacaan zikir yang dibaca, perjalanan waktu yang tersia-siakan, ketidaksukaan dan kepergian teman, perasaan hampa dan sempit pada diri seorang hamba di hadapan Rabbnya, terhambatnya pengabulan doa, hati yang keras, tercabutnya keberkahan dalam urusan rezeki dan umur, terhalang mendapatkan ilmu, terselimuti dengan kehinaan dan kerendahan karena tekanan musuh, perasaan sempit dada, tertimpa musibah berupa dikelilingi oleh teman-teman dekat yang jelek sehingga merusakkan isi hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan gundah gulana yang berkepanjangan, penghidupan yang sempit dan tertutupnya kemampuan untuk memperbaiki keadaan diri, itu semua terlahir dari kemaksiatan dan kelalaian untuk mengingat Allah. [Itulah dampak kemaksiatan] Sebagaimana halnya tanaman yang tumbuh dari dalam genangan air, atau seperti panas yang membakar dari sebuah nyala api. Sedangkan hal-hal yang menjadi lawan dari itu semua akan muncul dari ketaatan.”

~Ibnul Qayyim (Al Fawa’id, hal. 35-36)~

berharga

Posted Juli 7, 2008 by adiakhmadi
Categories: lamunan

Tags: ,

dari sedemikian banyak hal berharga

ini adalah anak dari abangku

namanya ammatullah, kayak abdullah tapi yg cewe nya

ayahnya sayang banget sama nih anak

aku sebagai paman tentu sayang juga

pikiranku

ntar anakku bakal gini nggak y

abis nih anak dirawat sangat sama bunda nya

“ketika kau lelah mengejar sesuatu yang berharga”

“cobalah melihat sekitarmu, anugrah yang diberikan-Nya spesial untukmu”

“bekerjalah karena kau butuh pekerjaan bukan pekerjaan butuh dirimu”

“ketika kau tidak mengatur dirimu, kau telah mengijinkan orang lain mengaturmu”

yach begitulah

mboh

Posted Juli 4, 2008 by adiakhmadi
Categories: lamunan

Tags:

lonelymboh

mau nulis tapi ndak tau mo nulis apa; jadi nulis mboh.

honey & clover sebuah movie romantic di animax ni hari.honey &clover tetsumoto

ceritanya ada tetsumoto salah seorang mahasiswa yg confuse mo jadi apa.

trus sepedaan, sambil ngerenung atawa diskusi sama dirinya.

keliling ja-pan gitu.

salah satu kalimatnya:

“kita pergi untuk mengetahui seberapa berharga bagi kita yang kita tinggalkan”

pertanyaanya yang berkesan

“sejauh mana jarak yang kulalui yang tidak kembali kuulangi”

(yang ini kalo ndak salah)

beda ceritanya sama foto ini

ini itu foto seorang shinigami dalam komik bleach

namanya itu (lupa) byakuya kalo ndak salah

ceritanya byakuya ini mesti (apa ya bahasanya) menghukum adiknya dengan hukuman zaman revolusi prancis (penggal kepala).

kalimatnya pas ditanya ama temen adeknya

“tega banget sih?”, dijawab

“kalau bukan saya siapa yang bakal menegakan hukum ini”

terus dijawab

“kalau saya, saya akan menetang hukum ini”

mboh

kutu lompat

Posted Juli 2, 2008 by adiakhmadi
Categories: buah perjalanan

Tags: ,

sad

kutu lompat memiliki kemampuan lompat maksimal.

ketika dia dimasukkan ke dalam kotak korek api.

kemampuan itu terlupakan.

kemampuan itu tidak lagi maksimal.

manusia sering membuat dirinya dalam kotak.

membelenggu kemampuan maksimalnya

sad

Posted Juli 2, 2008 by adiakhmadi
Categories: dari buku

Tags: ,

saat anda benci pada dunia yang anda lihat;

ubahlah persepsi anda.

kenyataan yang terjadi di dunia ini selalu sempurna.

tanpa kehendak-Nya tiada daun yang dapat jatuh.

semuanya adalah bukti kesempurnaan-Nya.

satu rahmah-Nya menyebabkan semua cinta di dunia;

sebabkan harimau tidak memakan anaknya.

teguhkan pemburu harimau menyamar jadi umpan tuk buruan.

rahmah-Nya sempurna bagi orang yang beruntung disisi-Nya.

bagian umat

Posted Juli 2, 2008 by adiakhmadi
Categories: dari buku

Tags:

hidup memang perlu dijalani terus

dipahami atau tidak

maka aku pun bersyukur

dengan keadaanku sekarang

memang aku tidak mempunyai jabatan

tanpa uang berlebihan

tapi kurasa sudah ada juga

yang kuberikan untuk keluarga, famili, masayarakat, bangsa dan ummat

-Deila Noer-

permainan

Posted Juni 30, 2008 by adiakhmadi
Categories: lamunan

Tags:

perjalanan demi perjalanan

terang benderang suluh kegelapan

chandra warna kehidupan

rangkai bertepi kematian

kehidupan berputar berporos permainan

walau diri terlahir tidak untuk bermain sendirian

bosan menyapa karena kubenci keramaian

benci muak pada semua kepura-puraan

namun kehidupan nampaknya demikian

sedih sendiri hanya hujan yang berteman

walau tak berhadapan permainan tak terpisahkan

tawa itu telah dipotong waktu perputaran

semangat pupus di jarak memisahkan

cinta tidak harus memiliki itu memuakkan

orang dicela inginkan lalu dapatkan

salahkan aku harapkan demikian

salahku inginkan tanpa perjuangan

layaknya perahu layar ingin ke depan

tanpa tempuh samudra berangin berbadai alasan

sadari itu sebagai awal mengesalkan

pil pahit ditelan tanpa getir itulah kesabaran

sakit getir air terpahit layak empedu kekesalan

berlalu tanpa rasa untuk mengikat makna kehidupan

itulah permainan